Fabrikasi bukan hanya menjual parts saja. Mereka menjual kemampuan untuk berkomunikasi dan bermitra dengan pelanggan.

Beberapa bulan yang lalu saya sempat mampir ke pabrik teman dan melihat sekelompok parts yang diberi tanda kuning. Teman saya adalah general manager disana, dan dia berhenti untuk berbicara dengan kepala produksinya. Mengapa diberi tanda kuning? Ternyata hanya karena ada sedikit perubahan design, dan informasi atas perubahan tersebut tidak turun ke produksi cukup cepat. Jadi parts-parts tersebut perlu dikerjakan ulang.

Saya berpikir atas kejadian tersebut sewaktu berbincang dengan owner dan beberapa project leader dari perusahaan yang bergerak di bidang IT. Mereka menyediakan terobosan solusi Eterprise Resource Planning (ERP) untuk perusahaan kecil dan menengah dengan harga yang bisa dibilang cukup murah untuk standar perusahaan.
Sewaktu membahas tentang kemungkinan bekerja sama, tiba-tiba saja sang owner mengingatkan saya sewaktu saya melihat tanda kuning pada sekelompok parts yang gagal tersebut.

“Gojek sekarang adalah perusahaan kurir terbesar di Indonesia, tapi dia tidak punya motor sendiri,” katanya. “Sama juga, Kalau Bapak melihat perusahaan media terbesar di dunia, yaitu Facebook, dia tidak menciptakan konten apa-apa. Dan kalau Bapak melihat toko yang paling gencar beriklan, dia tidak punya inventory; merekalah Tokopedia. Kalau Bapak melihat penyedia hotel terbesar, mereka tidak memiliki kamar atau lahan sendiri yang disewakan. Mereka adalah Agoda. Apakah persamaan dari semua perusahaan ini? Mereka semua adalah perusahaan informasi. Dan itulah yang membedakan perusahaan jasa yang sukses dengan yang sekedar bertahan hidup di jaman sekarang.”

Jasa fabrikasi tentunya tidak bisa menghindari semua barang NG (barang gagal). Tidak ada pekerjaan yang terus-menerus sempurna, dan terkadang pelanggan merubah designnya terlambat setelah barang mulai diproduksi. Tapi semakin sering sekarang pabrik-pabrik melihat bagaimana cara informasi mencapai bagian produksi, dalam bentuk elektronik atau kertas, dan seberapa cepat informasi tersebut sampai ke produksi.

Strateginya bisa bermacam-macam. Sebagian menciptakan Front-desk / Back-desk dimana estimasi, purchasing, sales, dan engineering bekerja sama di bagian depan untuk menjamin informasi yang tepat disalurkan dengan cepat. Sebagian lainnya merubah jadwal mereka sehingga SPK atau WO turun di saat-saat paling terakhir dengan stok raw material yang pas-pasan untuk memastikan on time delivery. Dan tentunya peranti lunak pun ikut berperan.

Apapun strateginya, sepertinya para fabrikasi tidak lagi sekedar menjual kemampuan untuk menciptakan suatu parts saja. Mereka menjual kemapuan bermitra – yaitu dengan cara berkomunikasi, menyarankan, konfirmasi, dan menyelesaikan pekerjaan dengan benar sejak pertama kali produksi.

Dan itulah yang kami implementasikan di Graha Adikarya Logam.